Toxic Positivity, Hal Positif yang Bersifat Negatif

Sobat Hidup pernah gak sih menemukan konten dari influencer atau public figure tentang kegiatannya atau kehidupannya yang inspiratif, lalu Sobat Hidup membatin “Dia produktif banget ya, time managementnya keren banget. Aku harus bisa kayak gitu!”.

Kemudian, Sobat Hidup mencoba untuk mengikuti cara-cara influencer atau public figure tersebut dalam mengelola kegiatan. Setelah beberapa saat, Sobat Hidup merasa “Kok susah banget sih … aku pengen bisa juga…” namun keluhan tersebut segera dibantah “AAA PUSING BANGET TAPI GAK APA APA! AKU HARUS BISA KAYAK DIA! DIA AJA BISA, MASA AKU GAK BISA?!”.

Sebenarnya tidak masalah jika termotivasi untuk melakukan hal-hal positif dan menyesuaikan diri dengan tren terbaru. Akan tetapi, memaksakan diri untuk melakukan keduanya bukan hal yang baik dan akan mendatangkan masalah. Keadaan seperti ini biasa disebut Toxic Positivity.

Toxic positivity adalah sikap yang membuat seseorang berusaha keras untuk melakukan hal-hal positif dan membuang semua hal-hal negatif. Sikap positif ini bersifat toxic sebab mengurung seseorang untuk mengekspresikan emosinya secara leluasa dan menumbuhkan mindset ‘emosi negatif adalah hal yang salah dan sangat dilarang’.

Secara fitrahnya, manusia diberi kemampuan untuk merasakan dan mengekspresikan beragam emosi oleh Tuhan YME. Emosi-emosi tersebut ada yang secara normatif digolongkan menjadi emosi positif (bahagia, kasih sayang, empati, dll) dan emosi negatif (marah, sedih, iri, dll). Akan tetapi, emosi positif dan emosi negatif tersebut akan memberikan dampak positif pada kehidupan orang yang bersangkutan dan sekitarnya apabila dikelola dengan baik. Toxic positivity bukanlah cara yang tepat untuk mengelola emosi sebab toxic positivity membuat seseorang berusaha sebisa mungkin untuk membuang emosi negatif. Selain itu, sikap ini menimbulkan keharusan untuk berbuat dan berpikir positif sehingga hal ini menjadi beban, stres, dan membuat orang tersebut menjadi tidak rileks.

Biasanya, orang yang mengalami toxic positivity tidak jujur dengan perasaannya sendiri/denial. Akibat dari ketidakjujuran itu, orang tersebut sulit mengelola emosinya dan selalu menyalahkan diri sendiri jika emosi negatifnya muncul. Selain itu, orang tersebut menghindari masalah yang dapat memunculkan emosi negatifnya. Orang tersebut malah memunculkan masalah baru dengan memotivasi dirinya dan orang lain untuk selalu positif dengan membandingkan dirinya dan orang lain dengan orang lain yang lebih baik serta mendiskreditkan perasaan diri sendiri dan orang lain.

Untuk menghindari toxic positivity, seseorang dapat memulai langkahnya dari terbuka kepada diri sendiri. Dengan paham dan terbuka kepada dirinya sendiri, seseorang tidak akan denial dan membuang emosi-emosi tertentu pada dirinya serta jiwanya menjadi lebih luwes dan tenang. Keterbukaan tersebut harus diiringi dengan pengelolaan emosi yang benar dan baik pula agar tidak ada emosi negatif yang mendominasi dan merugikan diri sendiri serta orang lain. Selain itu, seseorang dapat mengambil langkah dengan memahami bahwa orang lain pun berhak untuk merasakan dan mengekspresikan emosi negatif miliknya dan orang yang bersangkutan tidak boleh memaksa orang lain untuk melakukan hal-hal positif.

Langkah lain yang dapat dilakukan adalah mengurangi intensitas bermain di media sosial ataupun kehidupan nyata. Hal ini berhubungan dengan rasa iri terhadap orang lain yang memiliki kehidupan positif. Jika iri tersebut dijadikan motivasi untuk memperbaiki kehidupan atau kebiasaan, maka rasa iri tersebut valid. Namun, jika rasa iri tersebut membuat seseorang memforsir dan memaksa dirinya untuk bersikap positif, maka rasa iri tersebut akan berubah menjadi sikap FOMO (Fear Of Missing Out/ ketakutan ketertinggalan) karena diri sendiri yang tidak bisa catch up dengan positifnya kehidupan orang lain. Tentunya hal ini hanya akan menambah tekanan pada orang yang bersangkutan, bukan memberikan motivasi.

Namun, apabila semua upaya sudah dilakukan untuk menghindari toxic positivity ini, maka ada baiknya untuk meminta pertolongan dari profesional. hidupmedia hadir sebagai platform yang memudahkan akses masyarakat terhadap psikolog dan konselor psikologis dengan layanan Konsultasi Psikolog. Dengan harga mulai dari Rp150,000, layanan ini menyediakan konseling one on one bersama psikolog yang sudah teruji dan berpengalaman melalui Google Meet selama 1 jam (voice call ataupun video call). Pendaftaran dapat dilakukan dengan mengisi form berikut bit.ly/konsultasihidup.

Penulis: Syahira Rahadatul

Sumber:

Talitha, Tasya. 2020. https://www.gramedia.com/best-seller/toxic-positivity/ 6 Juli 2022 Pukul 17:17 WIB

Quintero, Samara and Jamie Long. 2019. https://thepsychologygroup.com/toxic-positivity/ 19 Juli Pukul 19:10 WIB

Ikuti kami di

Dapatkan informasi terupdate dari kami

Terus terkoneksi dengan HIDUP

Jl. Ganesa No.15, Lb. Siliwangi,
Kecamatan Coblong,
Kota Bandung, Jawa Barat 40132
0821 1820 1573
hidupmediaid@gmail.com