The Will To Power
Wednesday, January 25th, 2012 || Friday, 28 January 2011 |
| SETIAP diri manusia terlahir dengan membawa naluri untuk berkuasa atau menguasai lingkungannya. Kehendak untuk berkuasa (the will to power) ini mudah diamati sejak masa kanak-kanak. Coba saja amati ketika anak-anak mulai berinteraksi dengan sesama anak, biasanya mereka akan berebut mainan atau makanan.Lalu anak juga ingin selalu bertanya apa saja yang dia jumpai di sekitarnya karena dengan mengetahui juga tersimpan kehendak untuk memiliki,yaitu pengetahuan. Dari pengetahuan inilah nantinya berkembang kehendak untuk menguasai benda-benda. Bukankah kita tertarik memiliki barangbarang yang diiklankan melalui media massa? Bukankah munculnya kehendak para penjajah untuk menguasai wilayah lain bermula dari pengetahuan tentang peta bumi dan kekayaan alamnya? Ketika seseorang semakin dewasa, semakin berkembang objekobjek yang hendak dikuasai dengan berbagai langkah dan cara. Sejak bagaimana memenangi kejuaraan dalam olah raga sampai berebut pekerjaan dan selanjutnya lagi berebut berbagai jabatan, semua ini didorong oleh naluri untuk berkuasa, mendapatkan posisi lebih tinggi dari yang lain. Dalam pergaulan sehari-hari pun bisa kita amati kecenderungan seseorang untuk menguasai pembicaraan atau menarik perhatian. Secara ekstrem,setiap orang menginginkan apa yang disebut self-glory dengan cara dan tingkatan yang berbeda-beda. Dengan adanya naluri untuk berkuasa ini, kehidupan lalu menjadi dinamis. |

Tak perlu HEBAT untuk memulai usaha,
Melainkan harus BERANI memulai untuk jadi hebat !
Langkah pertama kadang terasa SULIT,
Tapi pasti MEMUDAHKAN untuk membuat langkah berikutnya.